Minggu,
10 Juni 2012
Tunjungan
Plaza, Goota Japanesse Restaurant
Seperti
biasa cerita inspiratif ini aku dapat dari kakakku yang mempunyai sejuta cerita
yang membuatku terinspirasi.
Tokoh
yang menginspirasiku kali ini adalah adik dari pacar kakakku. Seorang mahasiswa
ITB dari Surabaya. Jurusan spesifiknya kami nggak tahu, yang pasti berhubungan
dengan IT. Ditawari beasiswa dari 3 perusahaan besar dunia:
NASA,
MICROSOFT, GOOGLE
Glek....
Begitu mendengar cerita singkat itu aku langsung berkata dalam hati "lha
aku opo pek...."
Tentu
aku pingin tahu SMAnya dong, untuk membandingkannya dengan diriku.
"Dulunya
SMA di mana?"
"Sinlui"
Yah!
Karena dia sekolah di Sinlui yang sama2 di surabaya, harusnya anak smala
seperti aku dan teman-temanku hampir nggak ada bedanya dong. Harusnya kami juga
mempunyai kesempatan yang hampir sama dong, yang membedakan mungkin hanyalah
garis takdir kami yang pasti berbeda.
Begitu
dengar cerita itu, aku langsung melanjutkan perbincangan dengan konsultasi
mengenai jurusan di perkuliahan yg cocok untukku. Bak siswa yang konsultasi
dengan guru BK sekolahnya, aku bertanya panjang lebar pada kakakku. Tapi
kakakku malah bilang begini,
"Ya
kamu fokusnya apa lo? Harusnya kamu itu fokus sama bidang tujuannmu. Kalo
keluarganya mbak citra, sejak kecil itu adiknya udah difokusin di IT, mbak
citranya di komunikasi, jadi mereka nggak kesusahan."
Langsung
dengan sok mentusnya aku jawab,
"Lha
sekarang lo mau fokus gimana, tahun depan itu sistem penerimaan mahasiswa baru
pakai sistem undangan yang dilihat dari nilai rapor. Kalo misalnya aku fokus
sama satu bidang, nilai pelajaran yang lain itu pasti turun dan memengaruhi
rata2ku, padahal kalo mau ikut seleksi undangan di sekolah itu diambil rangking
50% teratasnya, kalo aku ga merhatiin semuanya nanti rata2ku turun dan kalah
sama yg lain. Terus kalau ga keterima, itu harus ikut ujian mandiri, nah tau
sendiri kan kalo UM itu biasanya gede2an duit, malah lebih repot dr undangan.
Gimana mau fokus, mangkel juga aku"
Kakakku
cuma tertawa kecil...
"Ya
itu lemahnya SMA Negeri..."
"Emang
SMA swasta itu udah difokusin gitu ya anak-anaknya mau belajar apa?"
"Ya
nggak juga se, cuma kalo fokus itu ya kaya anak SMK gitu."
Gaya
sok mentusku keluar lagi
"Iya
she, tapi anak SMK itu emannya biasanya mereka langsung kerja nggak ngelanjutin
kuliah, jadi mereka cuma jadi pekerja." *maaf kalau kata2ku terlalu mentus
dan seakan-akan memojokkan mereka, cuma mau bikin senyata2nya sama omonganku
aslinya"
Kakakku
memberikan sebuah perumpamaan,
"Sekarang
ya, misalnya ada anak namanya si A sama si B. Si A sekolah di SMK terus Si B
sekolah di SMA. Mereka sama2 menekuni bidang yang sama, misalnya mesin. Waktu
lulus sekolah, si A langsung kerja, sedangkan si B ngelanjutin kuliah. Nah pas
si B udah lulus kuliah dan masuk kerja, dia harusnya bisa duduk di posisi
manajer kan? Tapi ternyata dia cuma diposisikan di pekerja biasa dan si B dia
berhasil naik jabatan jd manager. Itu soalnya karena si B sudah lebih lama
kerja disitu, dan dia sudah bener2 paham sama seluk beluk pekerjaannya, sama
semuanya yang berhubungan sama pekerjaannya."
Setelah
bincang-bincang, akhirnya aku berhasil menetapkan tujuanku selesai SMA ini. Aku
mau masuk jurusan managemen. Sebetulnya sebelum ini aku punya tujuan ingin
masuk farmasi, tapi entah kenapa aku nggak yakin2 sama tujuanku ke farmasi ini.
Sebelumnya kakakku menyarankan masuk akuntasi, tapi aku nggak mau, aku bilang
akuntansi itu kan basicnya sosial, sedangkan aku IPA jadi aku mau cari jurusan
yang ada hubungannya. Aku sendiri juga nggak begitu suka dan bisa dengan
hal-hal yang berbau ekonomi *jujur aja*. Katanya, kalo mau jurusan yang
basicnya ipa, kalo karirku pengen bagus, ya berarti aku harus kreatif.
Maksudnya nanti aku harus bisa menemukan sesuatu dari lab. Misalnya, menemukan
obat anti HIV dan bla-bla-bla. Karena aku sudah menemukan jurusan tujuanku, aku
bertanya lagi,
"Berarti
nanti pas kuliah ilmu ipaku nggak kepake dong?"
"Lha
kamu pikir aku gimana? Ilmu ipa yo ga kepake, sosial yo ga kepake (ps: kakakku
ini waktu kuliah mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual - ITS) sebenere
pelajaran SMA iku yo ngga sepiro ngaruh."
Iya
sih... Sekarang coba pikir deh, lucu nggak sih waktu kamu mau jadi dokter, tapi
nilaimu soal kamu paham tentang kecepatan gerak benda jatuh bebas alias fisika
mekanik juga diperhitungkan? Kamu mau jadi psikolog, tapi cuma krn ortumu
nganggep IPS itu lebih rendah dari IPA, dan akhirnya kamu terpaksa masuk IPA,
tapi ternyata waktu mau kuliah dan daftar jurusan psikologi, nilai kimiamu juga
diperhitungkan. Dan ini yang paling aneh, saat kamu ingin daftar jurusan desain
grafis, nilai matematika, kimia, biologi, fisika, akuntansi, sosiologi juga
akan dipertimbangkan untuk menerima kamu. Ngaaaapsss?! Duh duh nggak habis
pikir sama sistem pendidikan di negara ini. Benar kata Bu Mei, guru Sosiologi
di Smala, "kalian itu korban dari sistem, nak."
"SMA
itu, yang penting lulus aja." Kata kakakku, langsung deh aku libes
"Ya
ga bisa gitu sekarang mas, katanya lo taun depan itu nilai unas bisa buat masuk
universitas. Aku ya mangkel she, padahal lo udah jelas joki itu bertebaran di
mana-mana, masih aja mau pake nilai UN buat masuk universitas. Temen2ku itu ya
pada mangkel sebenernya, mereka lo mau masuk FK, lapo ngitung kecepatan gerak
benda jatuh bebas, bla-bla-bla." (Ditambah lagi sama persepsinya
orang-orang kalau SMA terbaik itu dilihat dari nilai UNnya dan kata-kata dari
Mas Saka, "kalo kamu telusuri lo sebenernya UNAS di sini itu nggak
credible blas, mulai dari pengadaan soalnya sampai pelaksanannya.")
"Terus
lo ya, sekarang aku pingin masuk manajemen, lha lapo nilai kimiaku buat nilai
masuk. Kalo misalnya aku ngga lolos seleksi cuma karena nilai kimiaku rendah,
lo ya lapo pek, orang nggak bakal dipake kan."
Mangkel
membakar hati juga sih, karena kabarnya tahun depan nilai UN bisa digunakan
untuk masuk universitas. Jadi hampir sama seperti saat kita lulus SMP lalu
masuk ke SMA.
Tiba-tiba
topik berubah...
"Biasanya
orang-orang yang basicnya ipa atau teknik itu cuma bekerja sbg back
office."
"Maksudnya?"
"Mereka
cuma kerja di depan komputer, di balik layar. Kesempatan untuk naikin jenjang
karirnya itu lebih sedikit dibandingkan sama orang-orang yang bekerja di depan
dan di bidang public relation (intinya basicnya sosial). Orang yang punya
kemampuan leadership itu kesempatannya lebih besar untuk naikin jenjang
karirnya."
Aku
sudah dari dulu memutuskan tidak ingin bekerja hanya sebatas duduk di depan
layar komputer, aku tidak suka. Akhirnya mantaplah aku dengan tujuanku,
walaupun ya aku tahu, nggak akan ada ilmu fisika, biologi, dkk yang terpakai di
kuliah nanti.
Kembali
ke kasus Si A anak SMK dan Si B anak SMA tadi,
"Perusahaan-perusahaan
yang mempertimbangkan ijazah itu cuma perusahaan yang kaku2, kayak milik
pemerintah. Soalnya waktu kerja, yang paling penting itu kerja nyatanya. Waktu
kamu ngelamar kerja lo, nilai IPKmu ngga diliat, mereka lebih ngeliat kamu
waktu wawancara. Gimana caranya kerja dalam tim, gimana kamu harus bersikap
tegas & cekatan, gimana koordinasimu, itu yang menentukan, krn itu yang
dibutuhkan saat kerja nanti."
Perbincangan
pun berakhir, dan kami harus segera pulang karena hujan mulai turun.
Yah
semoga ini bisa menjadi bahan renungan ya. Siapa tahu di antara kalian yang
membaca postinganku ini ada yang bakal jadi menteri pendidikan. Semoga sistem
di sini bisa lebih baik lagi dan orang-orang berprestasi seperti mahasiswa ITB
tadi bisa tumbuh subur di sini dan membaktikan dirinya untuk kemajuan negara
ini.
Sebenarnya
tidak penting IPA atau IPS, kalau kita menyukainya, pekerjaan apapun yang kita
dapat pasti terasa menyenangkan kan? Walaupun itu hanya bekerja dibalik layar
dan di depan komputer, atau berkutat dengan pembukuan, orang yang tidak suka
banyak bicara, dipaksa untuk berbicara panjang lebar pasti rasanya juga tidak
akan menyenangkan. Yang terpenting adalah bagaimana kita fokus dalam belajar
untuk mencapai tujuan kita yang sebenarnya. Inilah yang aku rasa kurang dari
sistem di sini, kita tidak bisa fokus sesuai potensi yg kita punya, jadi
potensi yang seharusnya bisa menghasilkan nilai 100 hanya terekspos sebesar 75.
Hihihihi
mungkin tulisanku terasa sok neges. Tapi biarkan, aku hanya ingin menuangkan
pendapatku di sini. Karena kalau bukan kamu blog, siapa lagi yang mau
mendengarkan omonganku yang sok neges ini xixixixi.
"Ibaratnya
HP, dulu HP cuma bisa dipakai sebatas telepon & sms, tapi sekarang semuanya
bisa dilakukan dengan HP, memotret, merekam, mendengarkan musik, internet,
e-mail, games, dll. Sama seperti manusia, sekarang orang-orang menginginkan
manusia itu sebagai 1 paket yang lengkap."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar