we've all got both light and dark inside us what matters is the part we choose to action. That's who we really are.

Rabu, 22 Mei 2019

Hey its been very long time, why it can't be changed? What's wrong?

Hai, apa kabar?
Hi God, i want to pour my heart content in here, sorry if i can't do it through my prayers...
Jadi... Harus kumulai dari mana?

Terhitung hingga hari ini, jika aku tidak salah menghitung, sudah hampir 7 tahun. 7 tahun dalam keadaan yang tidak bisa kuatasi. Em, mungkin bukan selama sepanjang tahun aku menghadapinya setiap hari. Bukan. Memang ada saat-saat di mana aku lupa dan "bangkit" atas hal itu, tapi entah kenapa keadaan ini seperti penyakit kronis menahun yang tidak bisa sembuh. Penyakit yang butuh untuk diterapi seumur hidup, semacam penyakit degeneratif di mana aku harus minum obat sampai aku mati.

Pertama kali aku mulai mengalami dan memikirkannya - saat itu usiaku hanya 18 tahun - aku pikir, "Ah, ini hanya keadaan sementara, semuanya pasti akan membaik dan menjadi seperti apa yang aku impikan dan aku idam-idamkan. Aku masih punya waktu untuk memperbaikinya, atau mungkin membuat yang baru? Tenang, tidak selamanya aku akan seperti ini." Karena saat itu aku merasa masih memiliki banyak waktu... Dan memang benar, sejenak aku lupa. Aku percaya bahwa that's just temporary, i just need to be patient. Aku lupa, mungkin hanya satu tahun aku berhasil meyakinkan diriku bahwa itu bukan suatu keadaan yang akan aku temui lagi.

Tahun 2014. Aku hidup dalam kebahagiaan. Semuanya terasa sempurna, Tuhan mengabulkan semua permohonanku begitu cepat tanpa aku sadari, namun ternyata, entah karena apa dan sejak kapan, begitu tahun 2014 berlalu aku menemui kondisi yang sama seperti saat pertama kali penyakit itu muncul di pikiranku. Sebentar, aku bingung harus menceritakannya mulai dari mana. I don't know whether it was toxic people or toxic mind that making me to be in that worst state. I started to be skeptical towards everything; people, ideas, privilege, anything. I started being pathetic and i can remember very well, that time, the confident and optimistic me has vanished. I don't know where that "me" go. I was becoming so fragile, easy to get hurt and spending every night to overthink anything that i knew i couldn't control. It was so hard to get out of that state. Later on... it is never been easy for me.

Tentu saja aku tidak terus-terusan dan setiap hari dalam kondisi menyedihkan seperti itu, tapi yang jelas, selepas itu tidak pernah dalam sepanjang tahun aku merasa baik-baik saja. Sekeras apapun aku mencoba untuk positive thinking, getting in all-is-well mindset, dan berkumpul bersama orang-orang yang memberikan pengaruh positif padaku, akan ada suatu malam di mana aku terbenam benar-benar dalam pada pikiranku sendiri, memikirkan sesuatu yang jelas-jelas sudah di luar kendaliku. Menyesali masa lalu, memikirkan mengapa aku tidak bisa mencapai sesuatu dengan segala usaha yang telah aku lakukan, memikirkan segala hal yang couldn't work on me but it works on other (based on what i see), dan mungkin apabila dirangkum, segala ke-iri-dengkian yang tidak bisa kurasakan meski aku sudah mengimpikannya sejak lama.

Do i have a mental illness? I don't know.
Aku mulai menyukai membaca artikel-artikel terkait kesehatan mental dan mungkin karena aku membutuhkan jawaban atau "obat", i start to think, maybe i have that tendency, being mentally ill. Setiap aku membaca sebuah artikel mengenai latar belakang seseorang yang memutuskan bunuh diri atau melukai diri sendiri, aku mulai menggunakan ilmu "cocoklogi"-ku. Aku berpikir, apa yang dirasakan oleh orang tersebut juga aku rasakan, mungkin aku juga mengalami gangguan kesehatan mental seperti orang tersebut.

Then, have i tried to go to psychologist? Sadly, no. I never have enough gut to go but i have tried the counseling online service. I'm glad it helps me a lot. Tapi pemikiran dan permasalahan seputar diriku yang berputar di kepalaku tidak hanya satu. Layanan konseling online itu berhasil memperbaiki satu masalahku namun masih banyak hal lain yang masih menjadi pekerjaan rumahku. 

The biggest thing that bothered me now is the fact that i'm alone in my current place. Technically alone. Kenapa aku bilang begitu? Karena memang aku benar-benar tinggal sendiri di tempat baruku sekarang. Tidak ada satu pun anggota keluargaku yang berada di dekatku. Kan masih punya teman? Benar, masih ada, tapi pada umur ini setiap orang sudah fokus pada urusannya masing-masing. Kami memiliki kepentingan yang benar-benar berbeda satu sama lain. Ucapkan selamat tinggal pada kebiasaan, "Eh hangout, yuk!" "Yuk!" atau "Aku lapar, temani aku makan, dong?" "Yuk, aku ke tempatmu sekarang." atau "Aku mau main ke tempatmu, kamu ada di rumah kan, tunggu ya." Tidak. Tidak akan semudah itu lagi. Seseorang mengatakan kepadaku, saat kita berpindah ke lingkungan yang baru, tentu kita akan mendapatkan circle yang baru dan wajar jika seseorang melupakan kita, karena mungkin ya simply sudah tidak cocok, sudah jarang bertemu, tidak tahu update terkini dan bahasan pembicaraan juga pasti sudah berbeda karena kamu sudah tidak terlibat dalam kehidupan sehari-harinya. Posisimu sudah digantikan oleh orang-orang yang ada di circle barunya sekarang. Hal yang menyedihkan adalah aku belum menemukan circle baruku hingga sekarang, oleh karena itulah aku mengatakan aku hidup "sendirian". Soal teman-teman lamaku yang tinggal berdekatan denganku, sama seperti yang dikatakan seseorang itu tadi, they have a new circle, slowly, they become out of my reach.

Dari pengalaman-pengalaman itu aku merasakan perasaan cemburu yang teramat sangat. Perasaan cemburu yang aku tahu tidak sehat, namun sampai sekarang aku belum menemukan penawarnya. Cemburu soal apa? Yang paling utama adalah cemburu kepada orang-orang yang memiliki pengalaman selama masih belajar di sekolah atau kampus di mana mereka memiliki teman-teman atau wadah yang bisa mereka sebut "rumah kedua" atau kalau ala pencitraan di media sosial, "Terima kasih ya, dengan ketemu kalian/bergabung di sini/karena aku di sini aku bisa menjadi diriku sendiri, belajar banyak, dan berkembang." Entah kenapa, semasa kuliah 5 tahun aku belum memiliki pengalaman itu. Oh, sebenarnya ada, dan aku sangat bersyukur akan hal itu, tapi itu berbeda dengan "wadah" yang kumaksud sebelumnya. "Wadah" di sini maksudnya adalah di mana aku bisa merasakan berbagai pengalaman yang membangun, pengalaman kebersamaan bersama kawan, dan kegiatan-kegiatan upgrade diri. Mungkin semacam organisasi? Ya, organisasi atau komunitas yang membangun/meningkatkan kapabilitas diri, di mana orang-orang yang tergabung di dalamnya memiliki minat dan skill yang sama. Aku mempunyai sekelompok teman, tentu saja, tapi itu berbeda, karena meski kami sangat cocok satu sama lain namun kami belum sampai pada tahap melakukan hal yang kami suka bersama-sama. Aku belum pernah memiliki pengalaman semacam itu.

Hal ini membuat pikiranku merembet ke hal lain. Masalah pertemanan. Masa-masa di mana aku sendiri seperti ini selalu membuatku merenung dan menghitung kembali, sudah berapa pertemanan yang kubuat? Ada berapa orang yang bisa kucari jika aku merasa sendiri? Jika si A, si B, si C tidak ada, aku harus mencari siapa lagi? Akhirnya pemikiran-pemikiranku ini membawaku pada suatu kesimpulan... Aku bukanlah orang yang pandai membangun dan mempertahankan hubungan pertemanan. Hal ini membuatku sangat marah. Marah pada diriku sendiri dan pada keadaan. Aku merasa payah. Aku merasa, mengapa aku tidak bisa mempertahankan hubungan yang langgeng? Selama 24 tahun masa hidupku, hanya 1 circle yang masih bertahan hingga sekarang. Ya, hanya itu saja. Aku tidak bisa membayangkan jika seandainya circle itu merenggang, siapa lagi yang bisa kucari? Mungkin terlalu dini buatku mengatakan bahwa hanya 1 circle-ku yang masih bertahan, namun selain circle ini tidak ada lagi yang benar-benar dekat dalam artian dekat dengan tempat tinggalku sekarang. Aku cemburu. Mengapa seseorang bisa memiliki begitu banyak circle? Ketika circle yang satu tidak bisa, dia bisa pergi dengan circle yang lain. Ketika dia membutuhkan bantuan dia bisa pergi bersama circle A, B, C, atau D. Entah apakah aku yang kurang berusaha atau memang takdirku dan rejekiku seperti ini, entahlah. Aku merasa bahwa aku sudah berusaha semampuku untuk mempertahankan suatu hubungan agar tetap langgeng. Terutama semenjak pikiran semacam penyakit kronis itu muncul pertama kali saat usiaku baru 18 tahun. 

Ya, awal dari semua ini adalah saat itu, saat aku berusia 18 tahun, saat aku merasa aku tidak bisa mempertahankan pertemanan dan kebiasan overthinking itu merembet kemana-mana, termasuk pemikiran, why i don't have any specialties?

This is it, my summary about my inferiority complex. Part one.


Minggu, 03 Maret 2019

Jiwaku, apa kau masih kuat?

Aku ingin menangis sekencang-kencangnya. Bisakah?

Bab demi bab terus didatangkan, tidak ada jeda waktu sedikit pun untuk aku beristirahat sejenak.

Pelajaran apa lagin yang hendak kau tunjukkan& berikan kepadaku, Tuhan?

Senin, 28 Januari 2019

#HappyAlmost10Years

Blog ini sudah hampir berumur 10 tahun rupanya.
Bermuatan cerita mulai dari remaja labil yang ngga banyak masalah, masa peralihan menjadi dewasa muda yang super gloomy sampai sekarang aku yang sudah memulai babak baru kehidupan. Dilepas ke hutan belantara.

Kalau dilihat lagi ke belakang, rupanya aku ngga berubah banyak ya. Apa yang ditulis di sini selalu gloomy, kelam, segelap dasar lautan yang tidak tertembus cahaya matahari.

Dan hari ini aku baru sadar, kalau di mata orang lain aku memang se-fragile itu. Salah personal branding nih.

Lalu bagaimana? Ya nggak apa-apa, namanya berubah butuh proses. Prosesnya udah 10 tahun dan ngga kelar-kelar.

Selasa, 14 Agustus 2018

Being Adult is Hard

Wah sudah lama tak bersua ya... 6 bulan lebih dan dari 6 bulan itu, 4 bulannya saya jadi pengangguran haha.

Menjadi dewasa itu sungguh tidak mudah...

Tadinya saya mau nulis banyak di sini, tapi kenapa tiba-tiba idenya jadi hilang semua?

Rabu, 27 Desember 2017

My heart aches

This period of time... when my heart aches... its not just once or twice... it happened too many times...
Will someone eventually find me?
I think nobody can’t understand my feeling...
Bahkan mengungkapkannya saja aku juga tidak bisa, bagaimana mereka akan mengerti?

Will i live alone at the rest of my time?

Kamis, 28 September 2017

mentally ill

i'm mentally ill...

entahlah, apa kata-kata itu cocok untuk menggambarkan keadaanku saat ini
tapi yang jelas, aku benar-benar merasa lelah, mungkin tidak pada jasmaniku, tapi dengan jiwa ini, aku sudah sangat lelah dengan pikiranku sendiri. Entah hal apa yang dapat membangkitkan semangatku kembali...

Dan tiba-tiba... perasaan amarah pada satu orang tersebut membara kembali
aku pikir aku sudah tidak apa-apa, sudah kembali normal
aku juga tidak habis pikir apa yang telah dia lakukan hingga aku tidak bisa melupakan perasaan amarah ini... kapankah perasaan ini bisa menghilang? Setiap mengingatnya selalu seperti ada perasaan mendendam yang tidak bisa terbalaskan...

Dia telah memberiku pelajaran mengenai hal ini, "never trust someone too much, because soon or later, they will eventually leave you..."
Jangan terlalu menggantungkan diri pada manusia, karena kita tidak tau kapan mereka akan menghilang, mengkhianati, mengecewakan atau meninggalkan kita...

Minggu, 15 Januari 2017

Sabar dan Percayalah

Sabar. Apabila seseorang mau mencoba sabar dan sedikit meluangkan waktu dalam diamnya. Merefleksikan tentang dirinya sendiri. Berpikir mengenai kehidupan seperti apa yang ingin dia jalani kedepannya. Mimpi luar biasa seperti apa yang ingin di raih. Masa tua seperti apa yang ingin ia jalani.
.
Ketika proses mengenali diri sendiri itu telah selesai. Maka ia akan mulai sadar, tentang partner seperti apa yang sebenarnya ia butuhkan. Maka yang namanya paras yang menawan Atau latar belakang almamater dan keluarga yang kaya atau miskin. Bukan lagi menjadi suatu persoalan.
.
Ketika kitaa telah mengenal diri sendiri. Seseorang tidaklah lagi mencari apa yang dia inginkan. Namun, apa yang sebanarnya di butuhkan. Dia paham tentang apa perbedaan yang jelas antara keinginan atau kebutuhan. Yang jelas, itu adalah hal paling mendasar yang akan membuatnya bertahan hidup di dunia ini hingga segala hal yang menjadi cita-citanya terwujudkan satu demi satu.
.
Seringnya, ketika orang telah mengenal diri sendiri serta kebutuhannya. Partner itu  akan datang seiring perjalanannya walau harus berputar-putar terlebih dahulu. Perjalananya menuju impiannya terutama. Karena orang-orang yang memiliki impian yang sama akan bertemu pada jalan yang sama suatu ketika. Pertemuan itulah yang menjadi kejutan yang tidak akan kita ketahui sebelum kita berusaha.
.
Seseorang tidak perlu keluar dari jalan hidupnya sendiri untuk mencari partner dijalan lain. Justru jalan itulah yang akan mempertemukannya. Maka, tetap genggalah impianmu, berjalanlah terus ke arahnya. Maka bukalah mata hati, kamu akan mendapati orang-orang yang memiliki impian sama denganmu, sedang berjalan. Dan akan bertemu pada satu titik, sehingga kalian akan berjalan bersama untuk satu impian yang sama.
.
Menjadikan impianmu sebagai pemicu untuk suatu pertemuan, bukan keinginanmu untuk mencari teman perjalanan dari awal adalah poinnya. Biarkanlah semua mengalir seperti sungai, karena pada akhirnya satu titik saja yang akan menjadi tujuan, laut.
.
Semoga hari esok akan semakin cerah, langkah semakin mantap, mimpi kita tercapai satu demi satu


- saya hanya menyunting tulisan dari seseorang yang tidak berkenan ditunjukkan identitasnya -

Selasa, 03 Januari 2017

It doesnt feel rite..

I don't know but it just feels like... It isn't rite.
It hurts me instead.
Want to cry but i can't.

Oh kenapa hidup harus serumit dan seperti ini? Harus sabar bagaimana lagi? Cmon its already 2017.

Sabtu, 31 Desember 2016

percaya?

sesungguhnya aku tidak tahu di mana harus berpijak, kepada siapa aku harus percaya, dan apa yang sebenarnya aku inginkan.

percaya pada manusia hanya membuat sakit hati.

Sabtu, 12 November 2016

-

Kau pikir aku senang terjebak dalam suasana hati seperti ini? Kau pikir aku nyaman? Kau pikir aku biasa saja? Tidak.
Aku pun sesungguhnya ingin segera keluar dari lingkaran ini, menerima semuanya sebagai "kesialan sejenak semata" dan melepaskan, merelakan, dan mengikhlaskannya. Tapi itu sulit. Aku sedih berada dalam posisi ini tapi aku tak punya kekuatan untuk keluar dari sini. Kaulah penyebab dari semuanya. Entah sampai kapan aku akan berada dalam lingkaran ini. Mudah bagimu untuk berucap melalui mulutmu itu yang tidak merasakan bagaimana rasanya jadi aku. Rasanya aku ingin menangis tiap malam karena hal ini.

Jadi, siapa yang salah? Salahkah aku jika terus menuntut pertanggung jawaban darimu? Salahkah aku jika menyalahkanmu atas semua ini? Jika tidak, berikan aku alasan yang cukup kuat untuk tidak menuntutmu lagi.

Minggu, 06 November 2016

Ya tidak ada jalan lagi selain mengikhlaskan dan let it go. Apa yang kamu mau dari seseorang yang tidak mempunyai kuasa mengubah sesuatu?
Apa yang terjadi, maka terjadilah. Semuanya telah ditakdirkan.

"Tidak ada jalan lain selain mengalah. Kita harus menerimanya. Bagaimana lagi. Semakin kamu pikir, semakin kamu tidak bisa keluar dari hal itu. Yakinlah semuanya pasti berlalu dan berganti menjadi dengan yang lebih baik. Jangan terkurung pada hal yang sama terus menerus." Aziiz & Stezar.

Aku bersyukur bisa bertemu dan memiliki sahabat seperti kalian.

Rabu, 26 Oktober 2016

Jargonistik.

Mana yang katanya benar-benar merasa bersalah?
Mana yang katanya "aku minta maaf"?
Mana yang katanya "aku akan coba bantu kamu"?

Pada akhirnya kamu tidak dan tidak akan pernah melakukan apapun. Tidak melakukan apapun untuk menebus kesalahanmu. Tidak melakukan apapun untuk mengganti sesuatu yang telah rusak. Sedikitnya untuk melalukan apa yang kuminta sebagai bentuk permintaan tolongku kepadamu. Bahkan untuk membuatku menjadi sedikit lega saja kau tak akan pernah mau melakukannya...

Kau tak akan pernah melakukannya.
Aku tau, bukannya kau tak bisa, tapi mencobanya untuk mau pun kau enggan, dan karena tidak mau itu kau menjadi tidak bisa. Semua yang kau sampaikan hanya ucapan jargonistik semata. Tak akan ada yang menjadi nyata... Aku sedih pernah sempat terbelenggu omong kosongmu itu.

Selamat, selamat duduk manis dan tenang di kursi nyamanmu. Selamat menikmati hari-harimu yang semakin cerah dan indah.

Dan aku... Aku harus berusaha mati-matian keluar dari permainan emosi ini. Aku masih terkurung dalam emosi tidak stabil dan sakit hati ini, tanpa kamu tau kamulah penyebab dari semuanya...

Jika alam berkehendak, aku berharap karma itu ada.

Selasa, 18 Oktober 2016

i won't giving it to anyone

I won't giving my heart to anyone. At least for now. Just lemme enjoy my loneliness...

Minggu, 16 Oktober 2016

Back to 5 years ago

Aku teringat kata Sasha, 5 tahun yang lalu saat aku berada dalam keadaan ini, "Itu nggak apa, wajar... terusin aja, gausah dilawan, sampai suatu saatnya kamu akan berhenti dengan sendirinya karena sudah tidak ada lagi yang ingin kamu ketahui." i need kind of person like her now.

Jumat, 14 Oktober 2016

Titik Temu

Seandainya aku menemukan cara untuk mengendalikan diriku sendiri. Aku butuh suatu titik temu.

Kamis, 13 Oktober 2016

Aku Bergantung pada Siapa yang Ada di Sekelilingku

Ternyata aku baru menyadarinya... Hidupku banyak bergantung dengan apa dan siapa yang ada di sekelilingku...
Jika lingkunganku keras, aku akan ikut mengeras. Namun jika lingkunganku lembek, maka aku akan ikut melembek. Aku ternyata masih belum punya pendirian dan prinsip yang teguh, Agak sedikit ironi.

Minggu, 25 September 2016

Everyone has changed

i miss those hand-writing letters that's written for me...
i miss how you say sorry for not meeting me up through that letter...
i miss how you say that you'll wait my text through that letter...
i miss how you gave me that letter, even though you know that we won't have enough time to make it...
i miss how you say that you missed me through that letter...
i miss your writing... so gentle and full of feeling that i can feel it.
i miss the way you boost my mood up...
i miss the way that you promise me you will not do anything that can hurt me...
i miss how you promise me about anything that can calm me down...
i miss that old people who has changed today. And may be will not come back anymore.


"People change, so don't expect them to stay the same forever. We lose and we gain people in our lives. Because maybe, there isn't enough space for too many people in our hearts."

Selasa, 20 September 2016

Selamat Jalan Mida...

Tulisan ini didedikasikan untuk adikku tersayang, my Giant Baby, Mida Isma Durrotin...

"Mbak Preeelll"
"Mbak ini LK terpadunya enaknya gimana ya mbak?"
"Mamiiii..." "lho kok panggil aku mami?" "ya kan kalo mbak Topa Ibu, kalo mbak Prel Mami..."
"Mbak gapapa taa? duh aku ngerasa ngga enaakk, aku takut mereka nganggep aku ngga bertanggung jawab."
"iya doain aku ya mbaak.."

Halo Mida, gimana kabarmu dek? Semoga kamu sekarang merasa jauh lebih baik ya dan tidak merasa kesakitan lagi.. :) Sudah dua hari kamu meninggalkan dunia ini.. dan selama itulah aku belum mengucapkan kata-kata bela sungkawa dariku sama sekali. Bukannya aku ngga peduli, bukan. Tapi begitu aku tau kabar itu, aku bener-bener ngga bisa berkata apa-apa.. speechless. Menangis, cuma itu yang aku lakukan. Tidak kusangka begitu cepat kamu ninggalin kita dek... padahal baru beberapa bulan kita bertemu, baru beberapa bulan kita berusaha menjalin keakraban, baru beberapa bulan kita berjalan bersama seperti keluarga...

Masih tergambar jelas dalam ingatanku, betapa enerjik dan cerianya kamu setiap kita ketemu. Pake gincu yang merah terang, hehe, selalu nyapa dengan begitu hebohnya. Sungguh, baru sama kamu aku ngerasa disapa segitu heboh sama adek kelas, dan aku ngerasa seneng bangettt ngerasa punya adek yang mungkin bakal dateng kalo aku uda wisuda nanti *eh. Selalu salut sama semangat belajar dan keaktifan organisasimu. Awalnya aku sempet khawatir gegara semua kegiatan kamu ikutin, aku takut kamu terlalu sibuk dan ngga bisa bagi fokusmu dengan kegiatan di PSDM.

Sampai akhirnya hari itu tiba... aku juga masih inget. Waktu aku baru saja mau bersiap meninggalkan ruang ujian, kamu mendatangi aku. Bercerita hal yang awalnya nggak aku mengerti. Sampai kita lama berbincang di depan ruang kelas dan jadi bahan tontonan haha karena aku satu-satunya kating yang belum keluar dari kelas itu, padahal teman-teman kamu sudah duduk rapi dan siap menunggu dosen buat ujian. Dan akhirnya kamu menceritakan hal itu... "jangan bilang siapa-siapa ya mbak... belum ada yang tau hal ini kecuali mbak... mbak yang pertama kali tau." Waktu itu aku sebenernya sempat terbesit rasa sedikit takut, takut karena operasi tak akan berhasil atau kamu tak akan kembali, tapi ngeliat Mida yang selalu punya semangat berapi-api, aku jadi ngga terlalu khawatir, aku yakin operasi pasti akan berjalan lancar dan kamu bisa bergabung kembali bersama kita, di Aspirint, di kaderisasi, di PSDM, di BEM, di FF...

Beberapa minggu Mida nggak ada kabar... beberapa minggu Mida nggak nongol di grup... sampai akhirnya ada kabar, sedikit mengagetkan memang, saat tau kamu harus mengambil cuti kuliah sekitar 6 bulan - 1 tahun untuk penyembuhanmu... di sela-sela sakitmu kamu masih sempet khawatir sama prokermu, kepanitiaanmu, super memang. Aku kalo jadi kamu, Mid, nggak bakal mikirin itu, aku mungkin cuma bakal mikirin diriku sendiri, mikirin kesembuhanku dan memaksa orang lain untuk maklum dengan kondisiku, tapi dek Mida nggak begitu. Kamu masih mikirin meski kamu sakit, sampai di kondisi terlemahmu, sakit karena menjalani kemo, kamu masih nyempetin buat nelfon kami. "Mbak.. maaf ya... tolong ya... makasi ya mbak..." Suara di Mida menurutku saat itu nggak kayak biasanya, lemah sekali... benar-benar seperti seseorang yang sudah tak punya tenaga.. nggak kayak Mida biasanya yang ceria waktu nyapa aku, waktu rapat kaderisasi, waktu rapat PSDM...
aku sempat lega banget waktu tau Mida muncul dan kasih kabar di grup.. saat kamu menyapa kami semua dengan cerianya, seperti Mida yang biasanya.. waktu itu aku memang ngga banyak respon, tapi dalam hati aku optimis proses penyembuhan Mida akan berlangsung lebih cepat dan Mida bisa kembali ke Surabaya dan bertukar cerita tentang apa aja yang Mida lewatkan selama Mida menjalani perawatan di Jakarta.

Tapi Tuhan berkata lain.
Hari Minggu, 18 September 2016 sekitar pukul setengah 12 malam, dek Mida harus menghadap yang kuasa...
Aku nggak bisa menahan air mataku untuk nggak keluar... Nggak ada yang nyangka Mida akan meninggalkan kami secepat itu.. dan aku baru sadar juga kalo aku belum bisa jadi kakak yang baik buat Mida...

Maafin aku yang belum bisa jadi kakak yang baik... yang selalu bantu Mida waktu Mida lagi butuh bantuan...
Maafin aku yang selalu slow response tiap jawab chat dari Mida...
Maafin aku yang sering kurang solutif waktu Mida nanya...
Maafin aku yang kurang gercep tiap Mida butuh masukan...
Maafin aku yang kurang peka...
Maafin kalo aku kurang mendekatkan diri juga...
Mungkin di antara temen2 kaderisasi aku yang paling cuek ya mid :)
dan sekarang aku nyesel belum jadi kakak yang cukup baik buat kamu, cukup bisa diandalkan buat back up tugasmu waktu kamu lagi proses penyembuhan, dan belum cukup menyemangati kamu atau peka dengan keadaanmu...

Aku kangen sama sapaanmu dek dan memanggilmu dengan sapaan "Giant Baby"...
Aku masih menantikan saat bisa bertemu kembali denganmu dan menceritakan segala hal yang kamu lewatkan selama nggak di Surabaya...
Aku pengen nunjukkin hasil video perkenalan panitia Aspirint di mana kamu masih pake gincu merah cetarmu...
Aku kangen liat semangat belajarmu waktu kita rapat, ngingetin waktu aku masih di posisimu 2 tahun yang lalu...
Aku kangen cerianya Mida...
Tapi apapun yang dikehendaki Tuhan, maka terjadilah. Tuhan sayang degan Mida. Mida anak baik. Anak baik pasti akan mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan...

Selamat jalan Mida...Semoga kamu merasa jauh lebih baik di sana, ditempatkan di tempat terindah di sisi Tuhan... aku bener-bener sedih belum bisa jenguk kamu dan kamu sekarang udah nggak ada... Doaku akan selalu mengiringimu, seperti yang sudah pernah aku katakan ke kamu sebelumnya...

Rest in Peace Mida, we'll miss you deeply... :)


Senin, 05 September 2016

Sedih...

Aku merasa sedih... saat melihat kenyataan banyak di antara mereka, kawanku, yang telah melesat jauh. Tapi lihat aku? Masih di sini saja... belum banyak bergerak... belum banyak maju... belum banyak berubah... still stuck on my place.

Rabu, 24 Agustus 2016

Pernah tahu rasanya?

Pernah tahu rasanya? saat seseorang yang dahulu begitu kau damba-dambakan, kau nanti-nantikan saat pertemuan dengannya, sekarang menjadi... seseorang yang jauh berbeda. Yang bahkan membuatmu berpikir, "bagaimana bisa kami dulu bersama? bagaiama bisa aku bersama dengan orang seperti itu?"