Hai, apa kabar?
Hi God, i want to pour my heart content in here, sorry if i can't do it through my prayers...
Jadi... Harus kumulai dari mana?
Terhitung hingga hari ini, jika aku tidak salah menghitung, sudah hampir 7 tahun. 7 tahun dalam keadaan yang tidak bisa kuatasi. Em, mungkin bukan selama sepanjang tahun aku menghadapinya setiap hari. Bukan. Memang ada saat-saat di mana aku lupa dan "bangkit" atas hal itu, tapi entah kenapa keadaan ini seperti penyakit kronis menahun yang tidak bisa sembuh. Penyakit yang butuh untuk diterapi seumur hidup, semacam penyakit degeneratif di mana aku harus minum obat sampai aku mati.
Pertama kali aku mulai mengalami dan memikirkannya - saat itu usiaku hanya 18 tahun - aku pikir, "Ah, ini hanya keadaan sementara, semuanya pasti akan membaik dan menjadi seperti apa yang aku impikan dan aku idam-idamkan. Aku masih punya waktu untuk memperbaikinya, atau mungkin membuat yang baru? Tenang, tidak selamanya aku akan seperti ini." Karena saat itu aku merasa masih memiliki banyak waktu... Dan memang benar, sejenak aku lupa. Aku percaya bahwa that's just temporary, i just need to be patient. Aku lupa, mungkin hanya satu tahun aku berhasil meyakinkan diriku bahwa itu bukan suatu keadaan yang akan aku temui lagi.
Tahun 2014. Aku hidup dalam kebahagiaan. Semuanya terasa sempurna, Tuhan mengabulkan semua permohonanku begitu cepat tanpa aku sadari, namun ternyata, entah karena apa dan sejak kapan, begitu tahun 2014 berlalu aku menemui kondisi yang sama seperti saat pertama kali penyakit itu muncul di pikiranku. Sebentar, aku bingung harus menceritakannya mulai dari mana. I don't know whether it was toxic people or toxic mind that making me to be in that worst state. I started to be skeptical towards everything; people, ideas, privilege, anything. I started being pathetic and i can remember very well, that time, the confident and optimistic me has vanished. I don't know where that "me" go. I was becoming so fragile, easy to get hurt and spending every night to overthink anything that i knew i couldn't control. It was so hard to get out of that state. Later on... it is never been easy for me.
Tentu saja aku tidak terus-terusan dan setiap hari dalam kondisi menyedihkan seperti itu, tapi yang jelas, selepas itu tidak pernah dalam sepanjang tahun aku merasa baik-baik saja. Sekeras apapun aku mencoba untuk positive thinking, getting in all-is-well mindset, dan berkumpul bersama orang-orang yang memberikan pengaruh positif padaku, akan ada suatu malam di mana aku terbenam benar-benar dalam pada pikiranku sendiri, memikirkan sesuatu yang jelas-jelas sudah di luar kendaliku. Menyesali masa lalu, memikirkan mengapa aku tidak bisa mencapai sesuatu dengan segala usaha yang telah aku lakukan, memikirkan segala hal yang couldn't work on me but it works on other (based on what i see), dan mungkin apabila dirangkum, segala ke-iri-dengkian yang tidak bisa kurasakan meski aku sudah mengimpikannya sejak lama.
Do i have a mental illness? I don't know.
Aku mulai menyukai membaca artikel-artikel terkait kesehatan mental dan mungkin karena aku membutuhkan jawaban atau "obat", i start to think, maybe i have that tendency, being mentally ill. Setiap aku membaca sebuah artikel mengenai latar belakang seseorang yang memutuskan bunuh diri atau melukai diri sendiri, aku mulai menggunakan ilmu "cocoklogi"-ku. Aku berpikir, apa yang dirasakan oleh orang tersebut juga aku rasakan, mungkin aku juga mengalami gangguan kesehatan mental seperti orang tersebut.
Then, have i tried to go to psychologist? Sadly, no. I never have enough gut to go but i have tried the counseling online service. I'm glad it helps me a lot. Tapi pemikiran dan permasalahan seputar diriku yang berputar di kepalaku tidak hanya satu. Layanan konseling online itu berhasil memperbaiki satu masalahku namun masih banyak hal lain yang masih menjadi pekerjaan rumahku.
The biggest thing that bothered me now is the fact that i'm alone in my current place. Technically alone. Kenapa aku bilang begitu? Karena memang aku benar-benar tinggal sendiri di tempat baruku sekarang. Tidak ada satu pun anggota keluargaku yang berada di dekatku. Kan masih punya teman? Benar, masih ada, tapi pada umur ini setiap orang sudah fokus pada urusannya masing-masing. Kami memiliki kepentingan yang benar-benar berbeda satu sama lain. Ucapkan selamat tinggal pada kebiasaan, "Eh hangout, yuk!" "Yuk!" atau "Aku lapar, temani aku makan, dong?" "Yuk, aku ke tempatmu sekarang." atau "Aku mau main ke tempatmu, kamu ada di rumah kan, tunggu ya." Tidak. Tidak akan semudah itu lagi. Seseorang mengatakan kepadaku, saat kita berpindah ke lingkungan yang baru, tentu kita akan mendapatkan circle yang baru dan wajar jika seseorang melupakan kita, karena mungkin ya simply sudah tidak cocok, sudah jarang bertemu, tidak tahu update terkini dan bahasan pembicaraan juga pasti sudah berbeda karena kamu sudah tidak terlibat dalam kehidupan sehari-harinya. Posisimu sudah digantikan oleh orang-orang yang ada di circle barunya sekarang. Hal yang menyedihkan adalah aku belum menemukan circle baruku hingga sekarang, oleh karena itulah aku mengatakan aku hidup "sendirian". Soal teman-teman lamaku yang tinggal berdekatan denganku, sama seperti yang dikatakan seseorang itu tadi, they have a new circle, slowly, they become out of my reach.
Dari pengalaman-pengalaman itu aku merasakan perasaan cemburu yang teramat sangat. Perasaan cemburu yang aku tahu tidak sehat, namun sampai sekarang aku belum menemukan penawarnya. Cemburu soal apa? Yang paling utama adalah cemburu kepada orang-orang yang memiliki pengalaman selama masih belajar di sekolah atau kampus di mana mereka memiliki teman-teman atau wadah yang bisa mereka sebut "rumah kedua" atau kalau ala pencitraan di media sosial, "Terima kasih ya, dengan ketemu kalian/bergabung di sini/karena aku di sini aku bisa menjadi diriku sendiri, belajar banyak, dan berkembang." Entah kenapa, semasa kuliah 5 tahun aku belum memiliki pengalaman itu. Oh, sebenarnya ada, dan aku sangat bersyukur akan hal itu, tapi itu berbeda dengan "wadah" yang kumaksud sebelumnya. "Wadah" di sini maksudnya adalah di mana aku bisa merasakan berbagai pengalaman yang membangun, pengalaman kebersamaan bersama kawan, dan kegiatan-kegiatan upgrade diri. Mungkin semacam organisasi? Ya, organisasi atau komunitas yang membangun/meningkatkan kapabilitas diri, di mana orang-orang yang tergabung di dalamnya memiliki minat dan skill yang sama. Aku mempunyai sekelompok teman, tentu saja, tapi itu berbeda, karena meski kami sangat cocok satu sama lain namun kami belum sampai pada tahap melakukan hal yang kami suka bersama-sama. Aku belum pernah memiliki pengalaman semacam itu.
Hal ini membuat pikiranku merembet ke hal lain. Masalah pertemanan. Masa-masa di mana aku sendiri seperti ini selalu membuatku merenung dan menghitung kembali, sudah berapa pertemanan yang kubuat? Ada berapa orang yang bisa kucari jika aku merasa sendiri? Jika si A, si B, si C tidak ada, aku harus mencari siapa lagi? Akhirnya pemikiran-pemikiranku ini membawaku pada suatu kesimpulan... Aku bukanlah orang yang pandai membangun dan mempertahankan hubungan pertemanan. Hal ini membuatku sangat marah. Marah pada diriku sendiri dan pada keadaan. Aku merasa payah. Aku merasa, mengapa aku tidak bisa mempertahankan hubungan yang langgeng? Selama 24 tahun masa hidupku, hanya 1 circle yang masih bertahan hingga sekarang. Ya, hanya itu saja. Aku tidak bisa membayangkan jika seandainya circle itu merenggang, siapa lagi yang bisa kucari? Mungkin terlalu dini buatku mengatakan bahwa hanya 1 circle-ku yang masih bertahan, namun selain circle ini tidak ada lagi yang benar-benar dekat dalam artian dekat dengan tempat tinggalku sekarang. Aku cemburu. Mengapa seseorang bisa memiliki begitu banyak circle? Ketika circle yang satu tidak bisa, dia bisa pergi dengan circle yang lain. Ketika dia membutuhkan bantuan dia bisa pergi bersama circle A, B, C, atau D. Entah apakah aku yang kurang berusaha atau memang takdirku dan rejekiku seperti ini, entahlah. Aku merasa bahwa aku sudah berusaha semampuku untuk mempertahankan suatu hubungan agar tetap langgeng. Terutama semenjak pikiran semacam penyakit kronis itu muncul pertama kali saat usiaku baru 18 tahun.
Ya, awal dari semua ini adalah saat itu, saat aku berusia 18 tahun, saat aku merasa aku tidak bisa mempertahankan pertemanan dan kebiasan overthinking itu merembet kemana-mana, termasuk pemikiran, why i don't have any specialties?
This is it, my summary about my inferiority complex. Part one.