we've all got both light and dark inside us what matters is the part we choose to action. That's who we really are.

Kamis, 14 Mei 2015

TITIK BALIK1

Sampai sekarang, aku masih belum bisa mempercayainya...
Kisah ini kualami sendiri...

Hampir 3 hari yang lalu, aku mengalami kejadian menakjubkan, mungkin akan menjadi satu-satunya hal yang benar-benar terjadi dalam hidupku namun aku sama sekali tidak dapat mengingatnya. Ya, sama sekali, sudah 2 hari ini aku berusaha keras untuk mengingatnya kembali, bahkan dengan melawan rasa takutku, kembali ke tempat yang sama, hanya agar aku dapat mengingat dan mereka ulang kejadian apa yang sebenarnya terjadi pada diriku...

Akhirnya aku memutuskan untuk tidak memaksa agar dapat mengingatnya kembali, aku percayakan saja hal yang terjadi itu berdasarkan kesaksian orang-orang yang berada di sekitar tempat kejadian waktu itu...

Selasa, 12 Mei 2015
Sebetulnya aku sudah terjaga sejak sekitar shubuh... aku mengecek kembali laporan praktikum "Farmasi Fisika" Topik "Uji Disolusi" yang harus segra dikumpulkan hari ini, maksimal jam 5 sore di file holder di departemen Farmasetika. Masih kurang banyak, aku baru menyelesaikan pengolahan data, grafik, pembahasan, jawaban dari tugas, dan kesimpulan masih belum ada yang kukerjakan, nol semuanya. Akhirnya aku memanfaatkan sisa waktu yang ada untuk mengerjakannya sebisaku.
Menjelang pukul 6 aku sempat sedikit jengkel dengan orang tuaku, tak perlu kusebutkan apa alasannya. Menurutku berangkat pukul 6.30 lebih sedikit tidaklah terlalu terlambat meskipun kuliah dimulai jam 7 pagi hari ini, karena aku ingat, hari ini, jam pertama, akan ada kelas parasitologi, dimana (biasanya) dosen yang mengajar (sering) terlambat 15-30 menit, jadi aku tidak terlalu tergesa-gesa.
Perjalanan dari Rungkut - Merr sangat macet, menelan hampir 20 menit untuk menuju Koni. Ingatan terakhirku tertangkap disini... begitu aku mengambil lajur kiri dan membelokkan sepeda motorku ke kiri aku melihat jalanan begitu kosong, ingin aku menaikkan kecepatan motorku tapi belum sempat kulakukan, pandanganku hilang.

Aku seakan-akan bangun dari mimpi.

Aku terbangun karena ada suara seorang perempuan tergopoh-gopoh mengatakan, "dia teman satu kampus saya pak, dia juga kuliah di unair, tadi saya sempat berhenti, lha tapi mbak nya terus lalu ibu ini nyebrang sambil lari."

Aku bangun dengan tidak paham dengan semua ini, "pak saya dimana? tadi ini apa?" begitu tanyaku pada pak satpam di dekatku
"Hp! mana HP! mana telfon rumah? segera telfon rumah atau telfon mama!" dengan gemetar kucari kontak nomor rumah di handphoneku, bodoh, ternyata aku tak menyimpannya, akhirnya aku cari nomor mamaku, dan Puji Tuhan ketemu, dengan tangan gemetar kuserahkan Handphoneku ke bapak tadi.

"Pak sebenernya tadi ada apa?" tanyaku, seorang bapak menjelaskan dengan agak tenang, "tadi mbak habis nabrak orang nyebrang, ibunya ngga nyebrang di zebra cross, kendaraan lain sempat berhenti, tapi mbaknya lurus terus, dan nabrak ibu ini."

Aku kaget. Aku bahkan awalnya tak menyadari kehadiran ibu ini, begitu mendengar cerita bapak itu, langsung kualihkan perhatianku kepada ibu tadi... terlambat. Si ibu berdarah dimana-mana, seingatku ada pendarahan di kepala, lengan dan kaki kiri. Aku shock. Begitu melihatnya aku langsung menangis, kataku dalam hati, "jadi, aku abis nabrak ibu ini?" aku hampir tak pecaya dengan apa yang kulihat karena memang aku tak bisa mengingat kejadiannya sama sekali, ingatan terakhirku ada di jarak 1 kilometer sebelum tempat ini.

Ternyata si Ibu ini juga baru sadar dari pingsannya, dan orang-orang sekitar menjelaskan kejadian yang baru saja terjadi sambil mengatakan bahwa "akulah yang telah menabraknya". Hatiku begitu sedih, takut, kelu, semuanya campur jadi satu... setelah mendengar cerita orang-orang itu ibu itu langung menoleh ke arahku dan berkata "oalah nduk nduk cek nemene mean iku, wong nyabrang kok ditubruk, nemene seh nduk, ngene iki aku yaopo loro kabeh gaisok lapo-lapo.." (nak nak keterlaluan sekali kamu itu, orang menyebrang kok ditabrak, keterlaluan kamu nak, kalau sudah begini ini bagaimana, sakit semua badan saya, saya nggak bisa ngapa-ngapain). Apa yang aku lakukan? cuma bisa nangis.... iya nangis sambil minta maaf tanpa tahu apa yang sebenarnya kulakukan tadi sehingga menyebabkan keadaan ibu ini menjadi separah ini.. Aku hanya bisa minta maaf dan menangis sambil menjanjikan akan mengganti semua biaya pengobatannya...

tak lama kemudian ternyata majikan dari ibu ini datang, iya majikan. Ibu ini rupanya pembantu seorang perempuan muda di daerah perumahan sekitar tempat kejadian. Aku dan bibi dibawa segera ke RSUD Dr. Soetomo untuk mendapatkan pertolongan pertama. Aku masih bisa berdiri dan berjalan tanpa gangguan, tapi bibi ini... disenggol sedikit saja dia sudah mengaduh tak karuan...
Begitu sampai kami langsung dibawa ke IGD, aku baru tahu luka apa saja yang ada di tubuhku saat dokter muda di ruangan ini membersihkan lukaku, iya aku baru tahu karena saat bangun aku juga tidak merasa sakit. Ternyata aku mendapat luka di bagian lutut kiri dan dagu. Puji Tuhan dari pengecekan aku tidak mendapat sesuatu masalah yang berarti, setidaknya aku tidak gegarotak ringan, karena aku masih belum bisa mengingat kejadian kecelakaan tadi.

Mama dan Papa sudah di IGD, teman-temanku juga tiba2 datang menjengukku, mereka bolos kuliah imunologi, dasar, tapi aku bersyukur sekali punya teman seperti kalian. Lintang, Safira, Fina, Lita, Nana bergantian masuk ruang IGD dan menengokku, mereka melepaskan aksesoris yang masih menempel di badanku, dan saat itu juga aku baru sadar jika jam tangan yang kupakai ternyata pecah.. aku berpikir, "separah itukah?" mereka lalu berinisiatif memintakan surat istirahatku pada dokter dan mengatur perijinanku pada semua praktikum hari itu. Aku begitu bersyukur memiliki kalian.. bahkan laporanku pun, dikerjakan oleh mereka... kemudian mereka kembali, menuju ke fakultas kedokteran untuk mengikuti praktikum. Setelah mereka pergi aku menyadari sesuatu... Bagaimana dengan bibi itu?

Aku bangun dan bertanya pada mama, "ma gimana ibunya? gapapa kan?" "patah tulang 2 tempat, mama bingung, biaya pengobatan 30 juta"

Duniaku runtuh.........
Aku... tak bisa berpikir apa-apa... hanya bisa menundukkan kepala dan menangis...
dalam keadaan orang tuaku yang tak bekerja lagi dan aku yang menggantungkan kuliahku hanya pada beasiswa, darimana kami akan mendapat uang sebanyak itu untuk membiayai operasi dan pengobatan orang yang aku tabrak ini???

Tuhan, aku sungguh butuh keajaibanmu...


(((to be continued)))

1 komentar:

Nanung Nur Zula mengatakan...

real dream or dream real ???