we've all got both light and dark inside us what matters is the part we choose to action. That's who we really are.

Sabtu, 30 Juli 2011

Pelajaran Hidup dari Pemuda 24 tahun

Kemarin, Sabtu 30 Juli 2011, sepulang dari sekolah saat perjalanan naek bemo, mas ku sms, "Lia, aku ape ntn harpot, kon melu ga?" yah beginilah kami, sering berbicara dengan menggunakan bahasa jawa -_-. Meskipun dia lebih tua dari aku kadang aku juga memanggilnya "kon" hahaha nggak sopan banget yah ;_; (jangan ditiru!!). Begitu baca smsnya, ya aku langsung mau dong secara kan dibayarin gitu, siapa sih yang gamau ditraktir hahaha. Sekalian juga buat ngisi malam minggu, udah lama aku nggak jalan-jalan bareng mas ku ini waktu malam minggu. Akhirnya aku cepet-cepet naik bemo. Aku naik bemo yang lebih cepat, tapi turunnya agak lebih jauh dari rumah biar lebih cepet dijemputnya dan lebih cepet sampai rumah (asline podo ae se, tp lebih sebentar di bemonya ahahak). Sebelumnya aku tanya ke mas, ini mau nonton di mana dan dia jawab mau nonton di cito. Awalnya aku agak nggak yakin sih bakalan dapet tiket, secara kan udah malem (menjelang jam 8) selain itu juga harry potter gituuuu pasti kan banyak yang pengen nontoon, apalagi pas aku buka twitter, banyak yang update status kalau udah beli tiket nonton harry potter tapi buat besok. Pesimis deh. Tapi masku bilang, di cito buka 3 studio buat harry potter, kayaknya nggak bakal keabisan tiket (aslinya 4 lho ternyataaa ._.). Okelah aku percaya sama masku. Akhirnya sampai di rumah aku mandi, terus langsung siap2 buat berangkat.

Kami berangkat naik motor. Waktu di perjalanan sebenernya aku agak bingung. Tadi mas bilang mau ke cito, tapi kok arahnya ke daerah bratang. Yasudah aku diam saja, barangkali mas mau mampir ke rumah temennya dulu. Ternyata benar. Kami berhenti di daerah bratang, di depan sebuah toko dan waktu masuk ke dalamnya (bagian rumah, bukan tokonya) jeng jeeeng ada mas Gilbert & mbak Diana. Mereka ini sahabat mas ku sejak SMP. Mas Gilbert udah sahabatan sm masku sejak masih di bangku SMP sampai sekarang, hebaat yaah. Aku heran, padahal waktu SMA mereka pisah sekolah, tapi sampai sekarang mereka masih bisa sahabatan bahkan lengkeeet banget. Yah emang sih, waktu kuliah mereka emang satu kampus, satu jurusan, yah tapi tetep aja, aku salut sama mereka, mereka bisa tetep lengket sampai sekarang. Kalau mbak Diana, dia itu pacarnya mas Gilbert, aku nggak tau mas ku kenal mbak ini sejak kapan, pokoknya mereka bertiga itu lengket bangeett. Tapi aku jadi bingung, soalnya waktu masuk ada 1 mas lagi yang aku nggak tau itu siapa. Aku udah familiar sama wajah temen2 masku, tapi kalau yang ini, kayaknya aku nggak pernah liat. Yasudah walaupun bingung, kagok, canggung kayak gitu, aku tetep aja masuk terus duduk di sebelah mas yang aku nggak kenal ini. Awalnya mereka berempat ngobrol-ngobrol biasa, lalu mas yang aku nggak kenal ini ngajak aku ngobrol. Suaranya aneh, mirip kayak *maaf* orang down syndrome, tapi enggak dengan penampilannya, dia terlihat seperti orang biasa. Cuma waktu dia ngomong baru terlihat keanehannya. Dia ngajak aku ngobrol kira2 seperti ini...

masnya : "kamu adiknya yon ya?" (sambil mengangkat kedua alisnya dan suaranya seperti yang aku ceritakan tadi)
aku : "iya."
masnya : "umur berapa?" (sambil mengangkat alisnya lagi)
aku : "enam belas."
masnya : "sekarang sekolah dimana?" (daan sekali lagi, sambil mengangkat alisnya)
aku : "SMA 5."

yah begitulah aku kalau diajak ngobrol dengan teman2 masku, jawabnya selalu pendek2. Tapi bukan itu yang mau aku ceritakan. Aku baru sadar kalau mas ini agak aneh, sepertinya *maaf* dia nggak normal. Apalagi saat mereka berempat ngobrol, saat mas yang aku nggak kenal ini ketawa, ketawanya aneh nggak kayak orang biasanya, sekali lagi maaf, ketawanya seperti orang down syndrome. Akhirnya aku hanya diam saja dan memperhatikan mereka berempat ngobrol sambil makan jajan2 yang disediain.

Setelah mereka berempat puas ngobrol, akhirnya kami benar2 berangkat pergi ke cito. Tapi sebelum berangkat tiba2 mbak Diana bilang, "mas itungen mas, piro iki." Oh jadi ternyata jajan2 tadi itu bukan suguhan dari yang punya rumah, tapi dibeli sama mbak Diana (kan si yang punya rumah punya toko juga). Sekali lagi, mas ini memperlihatkan keanehannya. Dia jadi kayak bingung sendiri menghitung harga dari jajan2 itu tadi. Lamaa sekali menghitungnya, tapi untungnya total harga dari semuanya akhirnya ketemu juga. Yah walaupun nggak tepat segitu juga sihh, jadi mas Gilbert bayar lebih dari harga yang dibelinya gara2 uang kembaliannya nggak ada. Awalnya mas yang aku nggak kenal ini, nggak enak, gara2 mas Gilbert bayar lebih, tapi mas Gilbert sok udah bayar pas hahaha. Yah jadi gitu deh, susah jelasinnya --a.

Di jalan, aku ngobrol sama masku soal mas yang aku nggak kenal tadi...
(sebenernya ini pakai bahasa jawa, tapi di translate aja pake bahasa indo aja yahh)

a : "mas, temenmu itu tadi kenapa kok kayak gitu?"
m : "Dia pernah kecelakaan, terus kena syaraf apanya gitu, jadinya agak kayak cacat gitu."
a : "lhoalaa, kasiaan. Dulu satu sekolah sama kamu ta mas smpnya?"
m : "iya, tapi SMA nya dia bareng Gilbert."
a : "Lho, kecelakaan apa seh? Pas SMP ta?"
m : "Motor. Yo nggak pas SMA. Kasian dia habis kecelakaan itu dia jadi lumpuh, jadi nggak
bisa apa-apa, nggak ngerti apa-apa kalo mau ke kamar mandi mesti harus dianterin."
a : "oalaah, kasian."
m : "Sekarang dia udah berkembang, udah mulai bisa diajak ngomong banyak, udah bisa mikir masa depannya gimana. Dulu pas abis kecelakaan dia nggak bisa apa-apa nggak bisa diajak ngomong. Yah pas dulu itu kalau ada apa-apa yang ngerewangi (bantu) semua itu Gilbert kalo ada apa-apa sama Gilbert."
a : "oooh...."
m : "Yang paling mau bantu ya Gilbert. Anak kayak gitu itu kasian, abis lulus nggak ada lagi yang jengukin dia, yang njenguk abis lulus gini ya cuma Gilbert. Kalau ada waktu kosong Gilbert kadang main ke rumahnya."
m : "Kamu kalo milih temen itu ya kadang harus milih-milih. Seorang temen itu nggak hanya nemenin kamu pas senengnya aja, tapi juga pas susahnya juga."

waktu itu aku langsung mbatin, siapa saja temenku yang kayak gitu...

m : "yang patut diacungi jempol dari dia itu, dia yakin kalau dia bisa sembuh, dia nggak nyerah gitu aja. Sekarang dia udah berani berwiraswasta, buka usaha sendiri."
a : "lho, berarti tokonya tadi itu punyanya dia? dia yang bangun sendiri?"
m : " iya, dia itu yang punya."
a : "oalaah, tak kira punya orang tuanya. Terus kalau ngitung2 gimana mas?"
m : "bukan, ya itu punyanya dia sendiri, dia yang bangun. Ya gitulah emang agak lama ngitungnya. Kalau soal ngali2kan gitu dia agak susah, jadi ya kadang pembelinya juga bantu ngitung totalnya."

sekali lagi aku mbatin, apa mas ini nggak takut rugi?

a : "terus, abis lulus sekolah dia nggak lanjutin kuliahnya ya mas?"
m : "yo nggak, gabisa anak kayak gitu, lagian mungkin orang tuanya udah habis biaya banyak buat ngobatin dia sampai sembuh."
m : "Apalagi dunia kuliah itu kejam, kasian buat anak yang masih kayak gitu."
a : "tapi dia masih inget masa lalunya mas?"
m : "iya masih. Dia hebat berani berusaha, meskipun usaha kecil-kecilan kayak buka toko gitu. Yang penting dia bisa nyari duit dulu."

Satu kata, Hebat. Di dalam keterbatasannya yang seperti itu, dia berani bangkit hanya dengan bermodalkan keyakinan. Dia berani berusaha tanpa takut akan apa yang nantinya mungkin bisa membuatnya jatuh kembali. Dia berani melangkah, keterbatasannya nggak membuatnya putus asa. Semoga berhasil, mas! aku yakin suatu saat mas pasti bisa jadi pengusaha yang hebat dengan usaha yang mas bangun sekarang dan membuat teman-teman mas terkejut karena mas telah lebih berhasil daripada mereka :D

Tidak ada komentar: