we've all got both light and dark inside us what matters is the part we choose to action. That's who we really are.

Sabtu, 28 Mei 2016

The Real Failure

Semenjak memasuki perkuliahan ini, saya merasa banyak menemui kegagalan dan kegagalan yang saya rasakan itu benar-benar terasa nyata, tidak seperti sebelum-sebelumnya. Sebenarnya, jika boleh dibilang, saya ini termasuk orang yang menjalani hidup yang mudah (di luar segi ekonomi). Lingkungan keluarga saya cukup harmonis, meski keluarga saya sempat kalang kabut waktu mengetahui bahwa adik saya (anak ketiga dari orang tua saya) ternyata penderita autisme. Tapi hal itu tidak mengurangi keharmonisan keluarga saya, kami tetap hidup sepeti keluarga lain diluar sana, lengkap, tidak ada kekerasan dan paksaan di dalamnya. Dalam hal studi saya juga selalu dimudahkan. Iya, banyak. Dalam umur hidup saya selama duduk di bangku sekolah, saya hanya ikut yang namanya Les pada saat SD dan itu pun hanya sekitar 1-2 tahun. Saat SMP, SMA saya tidak pernah ikut lembaga bimbingan belajar dan puji Tuhan saya selalu masuk ke sekolah pilihan saya dengan mudah, bahkan saat masuk universitas pun juga begitu. Saya bersyukur. Selain kendala ekonomi, saya rasa saya jarang menemui kegagalan. Selama sekolah setiap mengikuti event perlombaan, jika prosesnya matang saya juga hampir tidak pernah pulang dengan tangan hampa, ya saya sadar sih, sebenarnya event yang saya ikuti juga event2 kecil bukan event besar dan bergengsi nasional atau bahkan internasional seperti itu. Saat mengikuti seleksi beasiswa pun saya juga dimudahkan.

Tapi, di perkuliahan ini saya merasa banyak menemui kegagalan.
Tahu kan rasanya jika kita sudah berusaha semaksimal mungkin, sebaik mungkin, tp hasilnya tetap saja tidak memuaskan?
Sabtu, 29 Mei 2016, saya akhirnya sadar betapa pentingnya kerja sama dalam sebuah tim. Saya teringat kata-kata dari Ketua OSIS Smala tahun 2011-2012 Limpat Salamat, yang selalu mengatakan ini di sela-sela pelatihan panitia perisai "Kita ini superteam, bukan superman." well, sebenarnya kata-kata itu (menurut saya) tidak akan begitu terasa bermakna apabila kita bekerja dengan orang-orang yang dari sananya, dari cetakannya memang sudah bagus, capable, dan kooperatif, yang memang dasarnya bisa diajak bekerja sama. Di tanggal ini saya menyadari betapa pentingnya kerjasama dan kolaborasi personal dalam sebuah tim. Saya mengikuti lomba, yang harus diikuti dalam bentuk tim, sebetulnya saya sadar juga kalau usaha saya dan anggota di tim saya mungkin tidak sekeras tim lain. Tapi yang lebih menyedihkan adalah saat mengetahui fakta jika "Percuma akunya bagus, tapi lainnya ngga niat dan biasa-biasa aja, keberhasilan tetep nggak akan tercapai, karena yang menjadi poin penilaian adalah tim, bukan individu."

Sebenarnya hal ini sepele dan sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari kan. Misalnya saat mengerjakan tugas kelompok, percuma ada seseorang yang mengerjakan bagiannya dengan sangat baik, tapi temannya tidak, padahal yang dinilai adalah kinerja kelompok, ujung-ujungnya mereka akan mendapatkan nilai yang sama meski usahanya berbeda. Tapi, di tanggal ini rasa kegagalan dari membangun kerjasama tim itu begitu nyata. Ya karena ini perlombaan, yang jenisnya do or die. Sedih sekali saat mengetahui fakta kita sudah berusaha sebaik dan semaksimal mungkin tapi tidak dengan anggota tim yang lain. Percuma satu individu memiliki kompetensi, performa, dan nilai yang begitu menjulang namun yang lain tidak, tetap akan kalah dengan lawan yang walaupun average tetapi kompak, saling melengkapi, dan dapat berkolaborasi dengan baik.

Setidaknya dari hal ini saya mendapatkan suatu pelajaran.

Tidak ada komentar: