we've all got both light and dark inside us what matters is the part we choose to action. That's who we really are.

Jumat, 11 Desember 2015

Kesempatan Tidak Datang Dua Kali, katanya

hm... akhir-akhir ini aku ngerasa kena apes mulu, sesorean ini rasanya bete banget...
Ada kesempatan, ada kemampuan, tapi waktu nggak ada...
serba nggak klop

Kata banyak orang, "kesempatan tidak datang dua kali."
iya, itu kata mereka

Dan akhir-akhir ini sudah banyak sekali kesempatan yang aku lewatkan
sedih banget sebenernya, karena itu sebenarnya bisa kujadikan batu loncatan, kesempatan untuk mengembangkan diri, atau seenggaknya "mengentaskan" aku dari kesedihan, keterpurukan, kegalauan, dan hal serba biru lainnya yang kurasakan akhir-akhir ini...




Kesempatan pertama yang kulewatkan
entah pastinya hari apa dan tanggal berapa, aku tiba2 mendapat panggilan telepon via line dari salah satu senior di kampus, yang sekarang udah jadi mahasiswa profesi. Waktu itu aku ngga peduli, krn pada dasarnya aku emang males banget kalo harus mantengin hape terus, ditambah applikasi line di hape yang lemot, makin bikin males liat chat yang masuk meski uda ketumpuk sampai 999++++, jadi kukira awalnya ah paling kepencet.

Sampai pada akhirnya,
waktu itu lagi sibuk ngurusin acara CROWN, semacam acara malam puncak seni yang diadakan bem fakultas dalam rangka dies natalis fakultas farmasi UNAIR dan kebetulan jadi sie acaranya. Hari itu, H-3 CROWN, kami yang sie acara lagi ngedampingin calon-calon duta farmasi latian catwalk, buat penampilan nanti waktu di panggung pas hari H *ecie catwalk, padahal ya cuma di lapangan bulu tangkis* lalu waktu istirahat sholat, karena aku laper, aku memutuskan buat beli bakso yang biasanya jualannya mangkal di depan fakultas, pas lagi enak2 pesen tiba2 ada seseorang datang dari lobby dan langsung bilang "Pril, besok bisa kan? MC sama aku lho di acaranya IAI." *IAI = Ikatan Apoteker Indonesia* aku yang lagi enak2 pesen langsung kaget dan bodohnya langsung bilang, "Gendeng, dikandani sopo, ndeng?" *sumpah ini ngawur banget padahal lagi ngobrol sama senior*. Seniorku ini, namanya Rizky, mahasiswa yang kondang dengan pengalaman MC nya, langganan dosen kalo ada acara2 fakultas atau univ. "Lho kamu belum dibilangi mas Kemal, tah?" lalu aku langsung teringat pada orang yang kukira cuma kepencet tombol telfon di hapenya, dan aku menjawab "enggak, aku ga dibilangin apa2, tapi emang sih kapan hari masnya nelfon, tapi aku gatau kalo ternyata soal ini." "yaudah, coba kamu konfirmasi, lagi"
Dan aku langsung teringat dengan jadwal yang uda disusun sama sie acara buat minggu ini, perjanjiannya: besok semuanya harus punya waktu untuk briefing, rapat, koordinasi, dan segala tetek bengeknya, semuanya! kecuali buat yang lagi kuliah & praktikum. Hal ini otomatis bikin aku gabisa ikut berpartisipasi dalam acara IAI ini, waktu itu sedih banget rasanya, ada tawaran dimana aku bisa mengembangkan diri, sekaligus belajar soal profesi yang akan aku jalanin kelak, tapi karena sudah ada jadwal yang mendahului, aku harus merelakannya... Waktu itu masih terbesit sedikit "akal" untuk melobby koordinator acara agar mengijinkan aku untuk "mangkir" sekali saja, tapi hanya dengan jawaban ringannya "ya terserah kamu prel, prioritasmu gimana, crown kapan? emang buat acara itu selain kamu ngga ada lagi?" aku langsung ciut. Iya benar, aku harus tau prioritas. Percuma juga bila aku mendapat untung untuk diriku sendiri tapi melalaikan tanggung jawab yang datangnya lebih awal.. ditambah lagi dengan aku yang pada esok lusanya harus ikut event PIM Unair, sedangkan pada waktu itu performa ku masih jelek sekali...

Sedih, satu kesempatan terlewat.
Aku kira itu kesempatan terakhirku.



Termyata masih ada kesempatan kedua!
Tiba-tiba lagi, lewat line, aku mendapat pesan dari orang yang belum kukenal (ternyata dia junior di fakultas, tapi karena ngga kenal aku panggil dia "mbak" -,- bodoh banget kan, panitia pengkaderan macam apa aku ini *jangan ditiru*

Dan terpaksa harus kulewatkan kembali...
Lagi-lagi soal skala prioritas.
Pada hari yang sama, saya ada kegiatan rekoleksi wilayah bersama teman-teman OMK dan Rekat, dan kebetulan (apakah memang benar-benarr sebuah kebetulan?) saya menjadi ketua dalam acara tersebut... Pastinya nggak mungkin banget buat ijin atau "mangkir" demi acara yang datangnya lebih baru ini... Sekali lagi, sempat terpikir buat mangkir, karena saya tau bahwa untuk keberangkatan rekoleksi ini terbagi 2 kloter, kloter pertama berangkat pukul 09.00 dan kloter 2 berangkat pukul 15.30, jadi saya berpikir masih mungkin kalo misalnya saya ikut acara di LPM itu dan berangkat menuju tempat rekoleksi di kloter 2. Tapi, kembali lagi saya harus mampu mengatur prioritas saya dan mengingat tanggung jawab saya. Jadi, saya terpaksa menolaknya (lagi).

Saat saya bercerita pada ibu mengenai hal ini, beliau hanya berkata "wes ditawari terus gaisok terus sing nawari dadi males, kapok ga gelem nawari maneh."
Ya Tuhan, kalo misal saya gabisa krn uda ada tanggung jawab lain di waktu yang sama apa itu salah saya? saya kan ngga tau kalo bakal ini atau itu. Maksudku, apa iya kesempatanku akan berakhir begini saja? Iya aku tau, solusinya gampang kalo lagi bingung masalah beginian, ya diatur skala prioritasnya, tanggung jawab yang datangnya lebih dulu harus diutamakan. Iya, saya tau. Saya hanya heran, kenapa dari sekian banyak hari, tawaran2 seperti ini datang di saat saya sedang tidak luang, saya merasa, apa sih maksud dari semua ini? kok dateng mesti tepak gakbisa? Maksudnya Tuhan apasih? Kenapa sekalian gausah. Tahu kenyataan bahwa sebenarnya kita bisa mengembangkan diri, segala fasilitas pendukung sudah ada, hanya 1 yang kurang, waktu saya sendiri. Menyedihkan. Benar-benar menyedihkan saat harus melewatkan kesempatan yang mungkin tidak akan datang 2x ini karena ada tanggungan yang harus diselesaikan...

Ternyata, hari ini...

 tidak berhenti.
Oke, untuk yang satu ini saya tidak ditawari dari awal, tapi dari seorang teman yang jauh lebih berpengalaman dari saya. Jam terbangnya tinggi. Pernah menjadi duta... hm pokoknya banyak (saya pernah baca CVnya saja sampai 3 lembar). Bukan maksud saya untuk mengambil keuntungan dengan berhalangannya dia ini, tapi yang saya pikirkan adalah: teman saya ini mahasiswa jurusan Ilmu Hubungan Internasional, pasti temen2nya juga anak2 sosial yang jago public speaking, dia juga seorang duta (saya lupa duta apa), yang pasti link2 nya untuk pembawa acara juga banyak. Tapi, kenapa saya yang ditawari? Lagi-lagi saya menganggap ini sebagai sebuah kesempatan emas, bukan hanya karena saya bisa mengembangkan skill saya, tapi juga ternyata saya "dianggap" oleh teman saya yang satu ini, saya dipercaya untuk menggantikannya, yah emang alay, saya jg gatau saya orang keberapa yang ditawari, mungkin yang terakhir, tp terlepas dari semua itu, akhirnya kesempatan itu menghampiri saya juga.

Namun...
Lagi-lagi saya harus melewatkannya.
SMS itu saya dapat saat saya tengah mendekorasi ruangan untuk keperluan acara penutupan penkaderan mahasiswa baru di fakultas. Ya, saya panitianya, dan acaranya adalah besok yang mana artinya, saya lagi-lagi tidak bisa meng-"iya"-kan untuk berpartisipasi karena saya ada tanggung jawab di acara penutupan itu.
lagi-lagi...

Kesempatan pertama, tertunda...
kesempatan kedua, hilang...
kesempatan ketiga, lewat...

Aku bertanya-tanya, apa arti dari semua ini? Kenapa tawaran terus menerus menghampiri, tapi belum pernah bisa kuambil? Apa maknanya? Selalu terhalang oleh jadwal yang telah terencana jauh sebelum tawaran ini datang. Apa ini untuk menguji aku?

Mungkin kalian yang (sudi) membaca ini bisa memberi sedikit pencerahan kepadaku?
karena sesungguhnya saat aku membicarakan keluh kesah ini kepada orang-orang yang kuangggap "mau mendengarkanku" mereka hanya melirikku dan bilang "kasian" atau "halah yowes ada (acara) ini gausah ikut." hm... iya saat seseorang tidak berada persis pada posisimu maka mereka tidak akan tau rasanya...

Yang kupertanyakan akibat hal-hal yang kualami barusan
Mengapa kesempatan terus datang dengan cara yang sama, dan saat saya tidak ada waktu?
kenapa aku selalu melewatkan tujuan dan targetku? dan...
Siapakah "teman" yang sebenarnya benar-benar mendengarkan dan peduli denganku?

Maafkan kerandomanku kali ini, benar-benar acak.

3 komentar:

Novi Dwi Ambarsari mengatakan...

prellee..tiba" pengen komen prel jarang ketemu prelle sih wkwk. Belum rejekinya mungkin prel tugas atau amanah ngga akan salah memilih tuannya kan? ngga ada yang perlu disalahkan dan saling menyalahkan. Tapi kembali lagi prel ketika apa yang bener" kamu ingin lakukan kamu prioritaskan mungkin lain waktu kamu ngga akan menyesalinya. Kesempatan sesungguhnya itu datang di waktu dan saat yang tepat kalo hanya lewat itu mungkin bisa jadi sebuah godaan. Semangaat prelle !

Aprillia Hardiyani Tanto mengatakan...

hai zibuuu!! maaf ya baru baleeesss hehehe
iya zibu, satu2nya penyemangatkuu saat ini adalah kata2 itu "amanah ngga akan salah dalam memilih tuannya" tapi memanng mungkin karna namanya godaan yaa.. ya selalu menggoda dan akhirnya bikin baper hahaha
amiin zibuu makasih suntikan semangatnya yaa semoga setelah ini aku bs lebih dewasa hahaha. Semangat jugaaa!!!

Anonim mengatakan...

Bersyukurlah, Mbak.
Masih diberi kesempatan, lha ada orang yang pengen, tapi tidak ada kesempatan yg datang bahkan harus dia sendiri yang berusaha mencari kesempatan tersebut.