we've all got both light and dark inside us what matters is the part we choose to action. That's who we really are.

Rabu, 23 September 2015

Feeling too blue...

Hai kembali lagi dengan malam biruku. Ya, setelah sekian lama, malamku masih tetap biru, masih kuhabiskan dengan tangisan yang tidak jelas. Aku merasa tahun ini menjadi tahun yang benar-benar diujikan Tuhan untukku, aku benar-benar merasa pada titik terendahku.

Menjadi sesosok orang yang luar biasa, inspiratif, berprestasi, atau setidaknya memiliki minimal satu talenta untuk dapat ditunjukkan pada orang lain, pikiran-pikiran itulah yang mewarnai hari-hariku akhir-akhir ini. Entah sejak kapan, mungkin sudah hampir 6 bulan aku menguras otak dan malamku untuk berpikir soal itu. Dan sejujurnya, aku belum melihat sisi diriku yang dapat menunjukkan hal yang telah kusebutkan. Tidak satupun. Aku merasa benar-benar manusia kosong, talentless, yang mungkin kalau aku pergi, tak akan ada yang menyadarinya, dan aku merasa sangat sedih akan hal itu. Tidak ada pencapaian berarti.

Sampai pada 3 hari yang lalu saat aku baru pulang dari mengikuti sebuah kompetisi di Jogja, aku turun di stasiun Gubeng Surabaya, sekitar pukul 10 malam, menunggu ayah untuk menjemputku. Aku duduk di emperan pintu depan stasiun lama, sendiri. Sejenak kemudian aku menyadari ternyata aku tak sendiri, ada seorang nenek di sebelahku, sedang tertidur dengan pulas dan berselimutkan jarik, jarik yang sangat tipis, dan bantal lusuh menjadi tempat kepalanya. Sesaat aku tercengang melihat keadaan itu, seakan-akan aku tidak pernah melihatnya, padahal hal itu sudah sangat biasa dan lumrah ada di Surabaya. Kupandangi terus nenek itu sampai akhirnya nenek itu tersadar dan tahu bahwa ada seorang gadis kecil yang memperhatikannya. Nenek itu dengan spontan-sambil masih posisi tidur-melambaikan tangannya dan mengajakku untuk tidur di sampingnya. Mungkin beliau juga melihat dan menyadari ekspresiku yang sangat letih akibat terlalu lelah berjalan seharian mengelilingi kompleks Malioboro dan Keraton di Jogja. Aku menolak ajakan nenek itu, dengan anggukan dan senyum kecil. Nenek itu tetap memaksa dengan melambaikan tangannya padaku, namun aku tetap menolaknya, kini dengan gelengan kepala dan senyuman yang sedikit bercampur dengan kesedihan. Nenek itu menyerah dan akhirnya memilih untuk tidur kembali, Ayahku akhirnya datang dan aku beranjak dari tempat dudukku, rupanya nenek itu menyadari bahwa aku akan pergi. Beliau sedikit mengangkat kepalanya, dan aku pun pamit dengan menganggukkan kepala dan berkata "monggo"

Hatiku sakit melihatnya. Silakan kalian bilang aku alay. Spontan aku merasakan sesak, dan aku menangis di tempat, di depan stasiun, di samping nenek itu, sambil melihat jalan yang masih ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang. Aku tidak bisa berpikir lebih jauh lagi, mengapa masih ada orang-orang yang harus mengalami hal ini, aku pun juga sadar ternyata Tuhan jauh lebih tega kepada nenek ini dibandingkan dengan kepadaku. Untuk saat ini aku cuma bisa bermimpi, bermimpi untuk tidak memberikan kesempatan pada Tuhan melakukan hal seperti itu kepada orang lain.

Dan malam ini... perasaanku kembali kacau dan kalut. Aku merasa kosong, tidak ada yang spesial, 20 tahun aku hidup dan belum ada hal signifikan yang bisa aku lakukan, sesuatu yang membanggakan atau apalah itu. Ditambah lagi dengan kekacauan, sebut saja "love life" ku. Tapi begitu aku mengingat pertemuanku dengan nenek itu, berita soal Marini dan ayahnya yang sedang ngetrend saat ini, dan penderitaan-penderitaan oleh kaum marjinal lainnya, aku merasa sungguh sangat konyol. Konyol karena aku menangisi hal yang..... entahlah dilupakan tidak bisa, disangkal pun aku juga tidak cukup kuat untuk menyangkalnya. Dan akhirnya, aku hanya bisa menangis semalaman ini sambil melihat penderitaan mereka orang-orang diluar sana, penderitaan Marini dan ayahnya... aku menangis, menangis karena tahu ada yang lebih menderita daripadaku, menangis karena aku kasihan pada diriku sendiri yang memikirkan hal-hal konyol sedangkan diluar sana banyak orang yang sedang bergumul dengan hidup dan bukan krn masalah semacam ini, menangis karena ternyata ada yang lebih mengalami "kekosongan" daripada aku, dan aku menangis karena aku tidak bisa menjadi apa yang aku mau.



Random.




iya, sangat.



Untuk semua yang sedang mengalami penderitaan, yakinlah kalian tidak sendiri.
Aku akan senantiasa mendoakan kita.

Tidak ada komentar: