we've all got both light and dark inside us what matters is the part we choose to action. That's who we really are.

Selasa, 10 Februari 2015

Hampa, mungkinkah semua itu semu?

Hampa, aku sangat rindu akan kehangatan yang dulu pernah kurasakan...

Rumah kini tak hangat seperti dulu... hanya kamar tidurku sendiri yang menjadi satu-satunya bagian yang tak ingin kuhindari. Semuanya berubah. Tak senyaman dulu. Sebisa mungkin aku hanya ingin diam dan memendamnya dalam-dalam... tak ada keinginan sedikit pun untuk membicarakannya. Aku sudah terlalu lelah dengan semua pertikaian dan perdebatan yang ada. Kukira, diam itu benar-benar emas. Diam adalah cara yang terbaik, tak peduli sesakit apa rasanya. Aku hanya ingin diam agar semuanya bisa mendingin...

Hal paling ngeri yang baru saja kurasakan... merasa tidak cocok dengan tempat yang sudah kutinggali selama hampir 20 tahun. Sungguh, ini ngeri.

Sahabat. Aku rindu akan kehangatanmu...
Sepertinya aku mengulangi kesalahan yang sama kembali. Maaf atas waktu dan perhatianku yang kurang untukmu. Aku kembali merasa kehilangan sesosok sahabat. Aku akan pasrah saja jika kau menemukan yang pasti jauh lebih baik dariku. Karena memang ini karmaku...

Semu... Aku rindu teman-temanku yang dulu. Kini... semuanya terasa semu. Maafkan jika aku terlihat baik di depanmu. Maafkan jika sebenarnya aku memendam rasa ketidakcocokan denganmu. Maafkan jika terkadang aku merasa tidak nyaman denganmu. Tapi, kau temanku, kan? Iya, setidaknya yang sudah menemaniku sejak aku masuk hutan rimba ini, keluar dari zona idealku yang sebenarnya sungguh teramat sangat nyaman. Entah kenapa... aku rindu akan tulusnya persahabatan yang dulu pernah kurasakan, bukan yang seperti ini, bukan. Menginjak 20 tahun, aku melihat semuanya itu semakin susah ditemukan. Terlalu banyak yang bermuka dua. Atau sebenarnya akulah yang bermuka dua? karena jujur aku tak tahan... aku tidak merasakan kehangatan dan ketulusan yang dulu sempat kurasakan. Maafkan aku. Aku sungguh menjijikkan...

Hanya satu orang manusia yang mengetahui ini semua, hanya satu selain Dia di atas. Aku sangat bersyukur telah menemuimu, terima kasih pada Tuhan yang telah mengirimkan manusia ini. Akhirnya impianku terwujud. Menemukan seseorang yang benar-benar bisa kuajak berbagi dalam situasi apapun, suka dan duka, senang dan malang. Kau benar-benar mengetahui semuanya. Tetaplah menjadi seperti ini...
Namun, satu permohonanku. Hanya satu. Jangan ubah aku yang sudah terbentuk ini. Membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menjadi aku yang sekarang ini. Kita masih sama-sama muda, kita memiliki banyak sekali impian yang belum terwujud. Tolong jangan bunuh aku dengan meragukanku untuk sekuat tenaga meraih impianku itu. Meraguganku, menyangsikanku, menyayangkanku...

Akhirnya... aku butuh rumah dan kehangatan itu kembali...

Tidak ada komentar: